Kerajaan Pajajaran: Peninggalan, Sejarah dan Masa Kejayaan
Selasa, Jul 2024
Kerajaan Pajajaran-kompas-
DailySports.ID - Kerajaan Pajajaran adalah kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara dan bercorak Hindu. Dahulunya, kerajaan ini berdiri tepat di bagian barat Pulau Jawa, yang masih dalam wilayah Indonesia bahkan juga memiliki peranan penting pada perkembangan di Nusantara sendiri.
Kerajaan ini juga memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah yang mana menjadi bukti bahwasannya Pajajaran merupakan kerajaan Hindu dan pernah berkuasa di wilayah Jawa Barat. Masih banyak sekali cerita bersejarah dari kerajaan ini, kamu bisa melihatnya di bawah ini!
Sejarah Kerajaan Pajajaran Singkat dan Lengkap
Kerajaan bernama Pajajaran memang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia, karena memang kerajaan ini memiliki eksistensi yang begitu besar. Bahkan Pajajaran menjadi salah satu kerajaan paling besar yang pernah berkuasa di Pakuan (sekarang Bogor), Jawa Barat.
Pada tahun 923 M, Pajajaran dibuat oleh Sri Jayabhupati yang mana pada masa itu daerah kekuasaannya masih meliputi sekitar ⅓ hingga ⅛ wilayah Pulau Jawa. Sedangkan pusat pemerintahan berada di Bogor apabila dilihat dari peta bangsa Portugis.
Sementara itu, cakupan wilayah kekuasaan dari kerajaan ini cukup luas, yakni di Jawa Tengah, kemudian Jakarta dan juga di Jawa Barat sendiri. Nah, setelah tahta dari Sri Jayabhupati berakhir, kepemimpinan kerajaan jatuh kepada Rahyang Niskala Wastu Kencana.
Pada masa itu, pusat pemerintahan kerajaan berada di daerah Kawali, namun ketika Prabu Siliwangi menjadi raja maka pusat pemerintahan kembali berpindah ke daerah Pakuan atau Pajajaran sendiri.
Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran
Masa kejayaan Pajajaran bermula ketika kerajaan ini di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau disebut dengan Prabu Siliwangi yang berkuasa pada tahun 1482 sampai dengan 1521 M. Pada masa kepemimpinan Prabu Siliwangi kerajaan dalam keadaan cukup teratur dan sangat tenteram.
Masyarakat pun diperhatikan dengan seksama, bahkan pada masa pemerintahanya tindakan yang pertama kali Prabu Siliwangi ambil adalah membebaskan penduduk dari empat jenis pajak.
Dengan begitu, akhirnya Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang memegang teguh asas kesetaraan dalam menjalankan kehidupan sosial.
Sang Prabu ternyata sempat merasa tidak senang ketika hubungan Kerajaan Demak dan Kerajaan Cirebon mengalami keakraban yang bagus. Namun hal itu tidak membawa perselisihan yang mengarah ke ketegangan, karena memang Prabu Siliwangi adalah raja yang bijak.
Hal yang membuat Pajajaran menjadi salah satu kerajaan besar adalah karena memiliki 100.000 prajurit bahkan juga 40 ekor pasukan gajah yang disebut oleh sumber Portugis.
Kejayaan di masa kepemimpinan Prabu Siliwangi bukanlah yang mengherankan karena memang sang raja sangat perhatian dalam berbagai hal, mulai dari pembinaan agama, kemudian pembuatan parit untuk bertahan, memperkuat prajurit perang, membuat jalan dan lain sebagainya.
Hal besar lainnya yang dilakukan oleh Prabu Siliwangi adalah menyusun formasi tempur di wilayah darat. Namun hal yang sangat disayangkan, meski kekuatan darat sangat besar, kekuatan angkatan lautnya cukup lemah.
Masa Kemunduran Kerajaan Pajajaran
Selain Pajajaran, masa kemunduran juga dialami oleh kerajaan lain seperti Kerajaan Malaka, Kerajaan Gowa Tallo, Kerajaan Banjar, bahkan Kerajaan Bali. Masa kemunduran Pajajaran dilalui ketika tahun 1579 yang mana hal tersebut diakibatkan oleh serangan musuh.
Kala itu, kerajaan diserang oleh kerajaan Sunda lain yang juga memiliki wilayah kekuasaan di Jawa Barat, yakni Kesultanan Banten. Runtuhnya kekuasaan Pajajaran ditandai dengan dibawanya Palangka Sriman Sriwacana atau disebut juga dengan singgasana raja.
Proses boyong dilakukan dari Pakuan ke Surasowan yang ada di Banten dan hal tersebut dilakukan oleh pasukan dari Maulana Yusuf. Singgasana raja berbentuk batu yang berukuran 200x160x20 dan harus diboyong karena sebuah tradisi politik.
Nah, tradisi tersebut adalah agar Pakuan atau singgasana raja sebelumnya tidak lagi digunakan sehingga tidak dapat menobatkan raja baru lagi. Hal tersebut juga menjadi sebuah tanda bahwa Maulana Yusuf adalah penerus dari kekuasaan Pajajaran sebenarnya yang sah.
Setelah Pemerintahan Pajajaran runtuh tak tersisa, akhirnya beberapa punggawa istana meninggalkan keraton dan membuat peradaban baru di wilayah Lebak. Mereka memulai peradaban dan menetapkan tata cara kehidupan lama yang begitu ketat dan kini dikenal sebagai suku Baduy.
Peninggalan Kerajaan Pajajaran Beserta Gambarnya Lengkap
Peninggalan kerajaan bercorak Hindu cukup berbeda dengan kerajaan Islam seperti Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore. Pajajaran merupakan kerajaan yang mampu bertahan selama 6 abad, sehingga tidak heran jika cukup banyak peninggalannya. Berikut ini daftarnya:
1. Babad Pajajaran

Babad Pajajaran-youtube @raksaart1587-
Babad Pajajaran atau disebut juga dengan Serat Babad Pajajaran merupakan sebuah naskah kuno yang di dalamnya mengandung cerita silsilah raja di Kerajaan Pajajaran. Tidak hanya itu saja, juga terdapat cerita tentang cikal bakal lahirnya kerajaan ini.
2. Carita Parahyangan

Carita Parahyangan-bumiparawira-
Carita Parahyangan juga berbentuk naskah kuno yang dibuat pada akhir abad ke-16 dan di dalamnya terdapat kisah sejarah Sunda, mulai dari zaman Kerajaan Galuh hingga runtuhnya Pajajaran. Carita Parahyangan memuat beberapa nama tempat yang berada di Pulau Jawa.
Sebagian besar nama daerah tersebut hingga saat ini masih disebut dengan nama yang sama, yakni sebagai berikut:
1. Ancol
2. Ciranjang
3. Cirebon
4. Gunung Galunggung
5. Kabupaten Kuningan
6. Gunung Puntang
7. Rancamaya
8. Citarum
3. Carita Waruga Guru

Carita Waruga Guru-inimahsumedang-
Peninggalan ketiga ini juga berbentuk naskah kuno, namun lebih muda dibandingkan naskah sebelumnya karena dibuat di akhir abad 17 atau awal abad 18. Naskah ditulis di atas kertas daluang dan bahasa yang digunakan di dalamnya adalah bahasa Sunda Kuno.
Isi naskah Carita Waruga Guru ini adalah tentang silsilah raja-raja Pajajaran yang dirunut dari Nabi Adam AS, kemudian isinya juga menggambarkan percampuran budaya Hindu dan ajaran Islam karena memang Pajajaran bercorak Hindu dan diruntuhkan oleh Kerajaan Banten bercorak Islam.
Masyarakat sangat percaya bahwa kisah yang ada di dalam naskah kuno Carita Waruga Guru adalah cerita lisan yang kemudian ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno.
4. Prasasti Batu Tulis (Bogor)

prasasti batu tulis-tripadvisor-
Prasasti Batu Tulis yang hingga kini masih bisa kamu lihat dibuat pada tahun 1533 M yang mana pembuatnya adalah Raja Surawisesa atau anak dari Prabu Siliwangi. Prasasti ini berisi tentang kekaguman Surawisesa kepada ayah kandungnya sendiri, yakni Prabu Siliwangi.
Pada batu prasasti ini juga terdapat bekas telapak kaki Raja Surawisesa dan juga batu lingga yang merupakan bekas tongkat pusaka dari Pajajaran. Prasasti Batu Tulis kini bisa ditemukan di Bogor dan tulisan di dalamnya adalah tulisan Sunda Kuno.
5. Taman Perburuan (Kebun Raya Bogor)

kebun raya bogor-wikimedia-
Kebun Raya Bogor juga merupakan salah satu peninggalan Pajajaran yang masih bisa dikunjungi hingga sekarang, namun pada masanya disebut sebagai Taman Perburuan. Taman ini dulunya merupakan bagian dari Hutan Samida yang ada ketika Prabu Siliwangi masih menjadi raja.
Taman Perburuan ini pada awalnya difungsikan sebagai salah satu tempat pemeliharaan berbagai macam kayu langka, namun ketika Pajajaran runtuh hutan tersebut dibiarkan begitu saja. Nah, setelah Belanda menjajah Nusantara, akhirnya hutan diubah menjadi Kebun Raya Bogor.
Kerajaan Pajajaran sudah sangat terkenal apalagi ketika Prabu Siliwangi yang memimpin tahta kerajaan, bahkan ketika dipimpinnya Pajajaran berhasil berdiri di puncak kejayaan. Meskipun demikian, akhirnya Pajajaran runtuh karena serangan Kerajaan Banten.